Puisi

Untuk beberapa orang yang masih menanyakan tentang bagaimana cerita manusia masih bisa terwujud dalam ucapan kasih sayang.




“Harpa Malaikat”

Malaikat mulai bersenandung tentang keabadian

Pertanyaan yang tak pernah selesai beradu

Tentang bagaimana para makhluk anas bisa bernafas

Bagaimana mereka bisa menyenandungkan detak jantung

Yang menjadi pertanyaan para makhluk tak awam itu

Mereka dikejutkan dengan ciptaan makhluk anas berhati itu

Sang Agung hanya mendengar senandung mereka

Tak ada jawaban lain yang Dia leburkan

Hanya setonggak kata “Lihatlah...” yang ia isi

Para makhluk cahaya ini hanya bisa menyimpan

Menyimpan teka-teki yang tak pernah bisa tertebak  

Karena tak ingin membuat para makhluk cahaya ini lebih terkantuk

Terkantuk dengan teka-teki ini

Diapun mengatakan “Akhirnya...”

Malaikat mulai tertegun dengan itu semua



Lihatlah Akhirnya...”

Tak ada pertanyaan yang akan lidah ucapkan lagi

Karena mereka tahu

Sang Agung hanya akan menjawabnya

Ketika harpa-harpa malaikat berhenti dipetikkan

Ketika makhluk anas itu mulai binasa

Ditangan para harpa yang tak tahu kapan akan berhenti bersenandung

Apakah dikala semesta mulai tergelar

Atau dikala semesta mulai tergulung



Senandung itupun mulai terdengar

Dengan banyak tetesan bening yang jatuh diatas tikar semesta

Dengan banyak kerusuhan para anas

Dengan banyak hantaman hati yang melilitkan

Dengan banyak, dengan banyak

Dan dengan banyak lagi suara harpa yang mengalun

Malaikat yang memainkan hanya tertegun

                                                                    

Inikah ?

Jadi ini yang dimaksud dengan teka-teki itu ?

Semesta yang baru, semesta yang penuh alunan

Meramaikan isinya ?

Sang Agung menyunggingkan bibir indahnya

Melihat ciptaan barunya

Dengan banyak hati disana



Malaikat mulai sibuk dengan harpanya

Mereka takut mereka akan berhenti memainkan harpa ini

Tak hanya mereka

Anaspun takut akan itu

Mereka ingin hati-hati ini selalu berbunga

Berbunga dalam keabadian

Namun mereka tak bisa menahan ketika harpa-harpa itu berhenti

Dan Agung mengucapkan

“Akhirnya...”




 


*Untuk Para Harpa Yang Dimainkan*




Jangan berhenti bergulat dengan waktu
Karena waktu tak akan pernah berhenti bergulat denganmu
Biarkan semua mengalir dalam dirimu
Biarkan rasa yang membawamu terbang
Jangan biarkan tembok debu menghampirimu dalam bayu
Sebuah lembaran kisah tentang para harpa
Yang akan mengulas bagaimana hidupmu
Tetaplah buka lembaran-lembaran itu dengan sunggingan bibir indahmu
Jangan pernah berhenti lakukan
Sampai lembaran itu telah habis
Sampai lembaran terakhir
Kau seharusnya menyimpulkan kisah itu
Dalam melodi kisah raga
Tak ingin banyak aku mengingatkan
Karena hanya selayaknya akan mengucapkan
Kata yang tidak terlalu repot dan membingungkan 


:) "ALWAYS READ" (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar